DAFTAR ISI
1.
DAFTAR
ISI.............................................................................................. 1
2.
BAB
I Pendahuluan .................................................................................. 2
A.
Latar Belakang ...................................................................................... 2
3.
BAB
II Pembahasan ................................................................................. 3
A. Kerajaan Mughol................................................................................. 3
1.
Kemunculan Mughol.......................................................................... 3
2.
Kemajuan Mughol.............................................................................. 3
3.
Kemunduran Mughol.......................................................................... 5
B. KerajaanUsmaniah.............................................................................. 6
1.
Kemunculan Usmaniyah..................................................................... 6
2.
Kemajuan Usmaniyah......................................................................... 7
3.
Kemnduran Usmaniyah...................................................................... 9
C. Kerajaan Safawiyah ......................................................................... 10
1.
Kemunculan Safawiyah.................................................................... 10
2.
Kemajuan Safawiyah........................................................................ 11
3.
Kemunduran Safawiyah................................................................... 12
4.
BAB
III PENUTUP 13
a. Kesimpulan 13
5.
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................. 15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejak jatuhnya Baghdad pada tahun 1258 M. ke tangan Bangsa
Mongol Tidak hanya mengakhiri pemerintahan Bani Abbasiyah tetapi juga merupakan
awal masa kemunduran politik dan peradaban Islam. Kekuasaan Islam mengalami
kemunduran sehingga Wilayah kekuasaannya terpecah belah menjadi beberapa kerajaan kecil yang satu
sama lain saling memerangi. Sehingga dari beberapa waktu, terbentuklah tiga
kerajaan besar yaitu : Kerajaan Turki Usmani, Kerajaan Safawi di Persia dan
Kerajaan Mughal di India.
Kerajaan Usmani yang
terbesar dan paling lama bertahan dibanding kedua kerajaan lainnya. Turki
Usmani dianggap sebagai dinasti yang mampu menghimpun kembali umat Islam
setelah beberapa lama mengalami kemunduran politik. Munculnya kerajaan Turki
Usmani, kembali menjadikan umat Islam sebagai kekuatan, ia berhasil menaklukkan
kota Konstantinofel, yang sejak masa dinasti Umayyah telah dicoba untuk
ditaklukkan, namun selalu gagal.
Selain Kerajaan Usmani, di Persia muncul juga satu dinasti
baru yang kemudian menjadi kerajaan besar di dunia Islam, yaitu dinasti Safawi.
Kerajaan ini mampu mempersatukan seluruh daerah Persia sebagai satu negara yang
besar dan independen.
Selain itu berdiri kerajaan Mughal di India dengan Delhi
sebagai ibu kotanya. kerajaan Mughal bukanlah kerajan Islam pertama di anak
Benua India. Awal kekuasaan Islam di wilayah India terjadi pada masa khalifah
al-Walid dari Dinasti Bani Umayyah. Akan tetapi Kerajaan Mughal termasuk salah
satu kerajaan yang cukup berarti dalam mengkonstruksi peradaban dunia Islam.
Dari ketiga kerajaan itu mempunyai peradaban atau kemajuan
dan sejarah yang berbeda-beda. Oleh karna itu penulis akan
mencoba menguraikan tentang sejarah ketiga kerajaan tersebut dan perkembangan
atau kemajuan yang dicapai pada masanya masing-masing serta kemundurannya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kerajaan Mughol
1.
Kemunculan
Mughol
Awal mula bangsa Mughol
adalah masyarakat yang nomaden. Karena masyarakat Mughol adalah masyarakat yang
berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lain. Ketika Islam sedang mengalami
kejayaan,bangsa Mughol sangat di kenal sebagai bangsa perusak kebudayaan Islam.
Akan tetapi keadaan tersebut berubah setelah kerajaan Ummayah menaklukkan
India. Kerajaan Mughol yang beribukota Delhi didirikan oleh Zahirudin Babur
(1482-1530). Babur memegang pucuk kepemimpinan sejak berusia 12 tahun. Meskipun
masih muda dia mempunyai ambisi besar di antaranya menaklukkan kota Samarkhand
di lakukan dua kali, usaha yang pertama gagal. Kemudian pada penaklukan yang
kedua mendapat bantuan dari Raja Syafawiyah, Ismail I. Sehingga pada pada tahun
1494 kota tersebut dapat di taklukkan. India dapat di kuasai sepenuhnya oleh
Babur pada tahun 1526 M setelah mengalahkan Ibrahim Lodi yang sebelumnya
menjadi penguasa yang bermarkas di Delhi.
Paska kemenangan itulah
secara resmi berdirilah kerajaan Mughol di India. Setelah Babur meninggal tahta
kerajaan Mughol di India di teruskan oleh putra mahkota yaiutu Humayun. Pada
awal pemerintahannya Humayun harus menghadapi gerakan sparatis yang dilakikan
oleh Bahdur Syah. Selain itu dia juga di hadapkan pada persoalan pemberontakan
yang di lancarkan oleh Sher khan yang mengakibatkan Humayun harus melarikan
diri dan mengasingkan diri ke Persia. Pada tahun 1555M Humayun mampu merebut
kembali kekuasaan Mughol di Delhi dengan mengalahkan kekuatan Khan syah.
2.
Kemajuan
Mughol
Sepeninggalnya Humayun
tahta kerajaan di pegang oleh anaknya yang bernama Akbar. Banyak kebijakan yang
dilahirkan oleh Akbar diantaranya politik salakhul (toleransi universal), yaitu
kebijakan politik yang menganggap semua warga India memiliki posisi yang sama.
Kemajuan yang menonjol masa Akbar terlihat dalam sistem struktur pemerintahan
dan kemiliteran. Kemajuan yang di capai oleh Akbar masih di teruskan oleh
generasi penerusnya yaitu Jehangir (1605-1628), Syah Jehan (1628-1658), dan
Aurangzeb (1658-1707). Dinasti Mughol pada saat di pimpin oleh keempat Sultan
tersebut banyak mengalami kemajuan, baik di bidang kebudayaan, pertambangan,
perdagangan, dan keilmuan. Di bidang kebudayaan terlihat dari perkembangan seni
dan arsitektur yang sangat pesat. Hal tersebut dapat dilihat dari disain
masjid, perpustakaan, dan sekolahan-sekolahan. Simbol masa keemasan dan
kejayaan dari dinasti Mughol ini terlihat ketika pada tahun 1632M, Dinasti ini
membangun Tajmahal, dan ketika masa raja keenam membangun sebuah masjid Badahsahi
di Lohore.
mengenai perkembangan
ilmu dalam zaman Mughol ini yaitu Hadis, Qur’an dan ilmu-ilmunya, Tasawuf, Ath
thib, Falsafah, Ilmu pasti/ilmu bintang, Ilmu Thabi’iyat/teknik, Ilmu
peperangan/berburu, Ilmu politik/tata usaha. Kemudian dalam perkembangan ilmu
bahasa meliputi Ulama pengarang bahasa, Ilmu tarikh, Kritik tarikh, Falsafah
tarikh, Ahli/pengarang tarikh, Jughrafi/rihlah, Mausuat/majmi.
Masa Mughol dalam
sejarah kebudayaan Islam mempunyai ciri-ciri Khas sendiri, diantaranya yaitu :
a. Berpindahnya
Pusat Ilmu
Kegiatan Ilmu pada masa Abbasiyah
berpusat dikota-kota Bagdad,Bukhara,Naisabur, Ray, Kordova, Sivilia, dan
lain-lainnya. Dalam masa Mughol berpindah kekota-kota Kairo,Iskandaria,Usyuth,
Faiyum, damaskus, Himas, Halab, Huma, dan lain-lain Kota Mesir dan Syam.
b. Pendukung
Sastras
Para Khaliifah, para
Menteri, para Amir dan para Pembesar lainnya tidak lagi menjadi Penggemar Ilmu.
Mereka hanya mabuk kekuasaan.
c. Ilmu-ilmu
Baru
Dalam masa ini, mulai
matang Ilmu Umran (Sociology) dan Falsafah Tarikh (Philosophy of History)
dengan munculnya Muqoddimah Ibnu Khaldun, sebagai Kitab pertama dalam bidang
ini. Juga dalam masa ini, disempurnakan penyusunan Ilmu Politik, Ilmu Tata
Usaha, Ilmu Peperangan, Ilmu Kritik Sejarah. Disamping lahirnya Ilmu-ilmu baru,
juga dalam masa Mughol ini, membanjir berbagai gelar kebesaran dimuka nama para
pembesar dan Ulama, sementara ibarat karangan menjadi sulit dan Uslu bersajak
yang hampa semakin banyak.
D. Kurangnya
Kutubkhanah
Dalam zaman ini, banyak
kutubkhanah-kutubkhanah yang besar menjadi musnah bersama segala akibatnya,
karena terbakar atau tenggelam di tengah-tengah suasana yang kacau atau
waktupenaklukan Mughol di timur dan penyerangan Sepanyol di barat.
E. Memperbanyak
sekolah dan Mausu’at
Dalam zaman ini, sekolah-sekolah
yang teratur tumbuh dengan suburnya,terutama di Mesir dan Syam, dan yang
menjadi pusatnya, yaitu Kairo dan Damaskus. Kecuali banyaknya sekolah-sekolah,
pada zaman Mughol ini istimewa dengan lahirnya “mausu’at” dan majmu’at (buku
kumpulan berbagai ilmu dan masalah, kira-kira seperti encyclopedia), sehingga
masa ini boleh di sebut “Zaman Mausu’at”.
F.
Penyelewengan ilmu
Dalam zaman ini, para
terpelajar banyak yang melarikan diri dari dunia falsafah, falak dan riyadliyat
ke dunia pembahasan agama. dalam masa Mughol ini, berbagai ilmu mereka
pergunakan adakala untuk menghidmati agama atau untuk mengabdi kepada khurafat.
3.
Kemunduran
Mughol
Setelah
meninggalnya Aurangzeb pada tahun 1707 M, Dinasti Mughol mulai dilanda konflik,
baik internal maupun konflik eksternal. Konflik internal terjadi karena adanya
suksesi kepemimpinan dimana terjadi perebutan kekuasaan antara keturunan
Bahadur Syah dengan Muhammad Fahrukhsiyar.konflik tersebut mengakibatkan perang
saudara antara kedua keluarga besar tersebut. Konflik yang berkepanjangan yang
terjadi pada dinasti Mughol telah mengakibatkan lemahnya roda pemerintahan
pusat sehingga banyak daerah yang ingin melepaskan diri dari pemerintah
pusat.selain masalah intern dinasti, Mughol juga dihadapkan pada beberapa
pemberontakan yang daatang dari orang Hindu dibawah pimpinan Banda yang
kemudian berhasil merebut kota Sadhaura sebelah utara Delhi. Di luar itu di
Eropa terdapat negara yang semakin kuat posisi dan penagruhnya, yaitu Inggris
mulai melancarkan serangannya sejak pada masa Bahadur Syah.
Puncak konflik antara Mughol dengan Inggris terjadi pada
tahun 1885 M dimana Mughol sudah tidak lagi mempnyai kekuatan. Rakyat India
banyak yang dibunuh, Bahadur Syah, Raja terakhir Mughol, harus rela diusir dari
istananya. Terusirnya Bahadur Syah dari istana kerajaan mengakhiri pula sejarah
panjang dari dinasti Mughol yang berarti juga hilangnya kekuatan umat islam di
India secara umum.
B. Kerajaan Usmaniyah
1.
Kemunculan
Usmaniyah
Munculnya istilah
Kerajaan Usmaniyah diambil dari pemimpinnya yang kedua yaitu Usman. Ketika
masih berupa kelompok suku Komuntas ini dipimpin oleh Ayah Usman yang bernama
Erthogol (Arthogol) Bin Sulaiman. Erthogrol meninngal pada tahun 687H atau 1289
M, ketika wilayah kekuasaannnya berada dibawah kekuasaan Alauddin. Penunjukan
Usman untuk melanjutkan kepemimpnan Ayahnya itu dilakukan oleh Alauddin.
Kedekatan dan kerjasama
yang telah dibangun oleh erthogrol terus di lanjutkan oleh Usman, di antaranya
dia berjasa telah menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan
kota Broessa. Dengan kesetiaan di tunjukkan oleh Usman kepada Alauddin, maka
Sultan Alauddin memberi gelar “Bey”, memberikan hadiah berupa perluasan daerah
kekuasaannya, dan diizinkan memakai mata uang sendiri. Sebagaimana bahwa
meninggalnya Alauddin mengakibatkan pecahnya wilayah kekuasaan Dinasti Seljuk,
saat itu pula Usman menyatakan kemerdekaan dan berkuasa serta berdaulat penuh
atas wilayah yang dia tempati. Maka sejak saat itulah wilayah Daulah Usmaniyah
eksis dan berdaulat dengan Raja pertama Usman bin Erthogrol atau lebih dikenal
dendan Usman 1. Pada waktu Munguliyah sedang menuju kehancurannya maka
bangkitlah Daulah Usmaniyah di Asia kecil yang kemudian dengan segera
menyebrang laut menuju Eropa dan dalam tahun 857 H Kota Istambul dapat
direbutnya.
2.
Kemajuan
Usmaniyah
Akibat Kegigihan dan
ketangguhan yang dmiliki oleh para pemimpin dalam mempertahankan Turki Usmani
membawa dampak yang baik sehingga kemajuan-kemajuan dalam perkembangan wilayah
Turki Usmani dapat diraihnya dengan cepat. Daulah usmaniyah memperluas daerah kekuasaannya
ke semenanjung Balkan, dan berkibarlah bendera islam di angkasa Timur Eropa,
dari semenanjung balkan Daulah Usmaniyah melebarkan sayapnya ke jurusan timur,
dalam waktu yang sangat singkat seluruh Persia dan Irak yang di kuasai oleh
Daulah Shafawiyah yang beraliran syi’ah diganti dengan aliran sunny.
Kemudian dari Persia
dan Irak Daulah Usmaniyah menuju ke Syam dan Mesir, sehingga pada tahun 923H
Daulah Usmaniyah dapat menguasai kedua wilayah tersebut, sebagai permulaan dari
Dinasti usmany memegang kendali dunia islam dengan pusat pemerintahan di Ibukota
Negara Istanbul. Adapun wilayah yang sepenuhnya di kuasai oleh Daulah Usmaniyah
yang terdiri dari Unsur Turki, yaitu Asia Kecil,Semenanjung Balkan,Pulau-pulau
di lautan tengah,Mesir,Syam,Tunisia,Aljazair,Lybia,dan beberapa daerah lain.
Daulah Usmaniyah membiarkan para Sulthan dari Dinasti Mamalek tetap menjadi
penguasa dari wilayah Mesir dan Syam, karena mereka unsur Turky dan menganut
Aliran Sunny.
Dalam Perkembangan
Daulah Usmaniyah Secara garis besar kepemimpinan kerajaan Usmaniyyah dapat di
kelompokan menjadi lima periode. Adapun
kelima periode itu adalah sebagai berikut:
a. Periode
pertama, yaitu masa pendirian dan pembentukan kekuasaan setelah melepaskan diri
dari Dinasti Saljuk. Masa ini berlangsung dari tahun1299 hingga tahun 1430-an
M. Dengan demikian pemimpin kerajaan yang termasuk pada periode ini adalah
Usman I, Orkhan Murad I, Bayazid I, dan Muhammad I.
b. Periode
kedua, yaitu masa pembenahan, pertumbuhan, dan ekspansi besar-besara. Di masa
inilah puncak kejayaan dan kemenangan bagi kerajaan Usmaniyah dengan di tandai
takluknya kota Konstantinopel yang kemudian di jadikan Ibukota dengan di rubah
namanya menjadi Istanbul.
c. Periode
ketiga, merupakan periode dimana ekstitensi kerajaan sudah mulai terkoyak
akibat serangan dari luar sehingga pada periode ini banyak wilayah yang lepas
dari kekuasaan kerajaan Usmaniyah, misalnya Hongaria.
d. Periode
keempat, yaitu masa dimana banyaknya gerakan sparatis yang mengakibatkan
hilangnya secara perlahan-lahan kekuasaan kerajaan Usmaniyah.
e. Periode
kelima atau periode terakhir, dari kerajaan Usmaniyah berlangsung sekitar tahun
1839-1922M. Pada periode ini pengaruh barat sudah mulai nampak, hal ini bisa di
buktikan dengan adanya kebudayaan dan gaya administrasi ala barta.
Sebagaimana tergambar
diatas bahwa kerajaan Usmaniyah awal mulanya merupakan sebuah suku yang
nomaden,dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebudayaan Usmaniyah tidak
dipengaruhi dan didominasi oleh satu kebudayaan saja, melainkan hasil berpaduan
antara budaya Persia, Bizantium. Dari kebudayaan Persia, lebih mengambil
ajaran-ajaran tata krama dan etika. Sedangkan ajaran-ajaran tentang prinsip
ekonomi, perkembangan keilmuan, dan sosial kemasyarakan mengadpsi dari Budaya
Arab. Dalam bidang keagamaan kerajaan Usmaniyah berpegang teguh pada Syari’at
Islam, sehingga tidak aneh ketika Fatwa Ulama menjadi suatu hal yang Urgen
dalam menjaab problematika keagamaan Umat. Dalam
perkembangan ilmu pengetahuan di masa Usmani yaitu mempunyai gerakan wahabi yaitu
yang di pimpin Muhammad bin Abdulwahab yang setelah dewasa Muhammad kemudian
menjadi seorang pemimpin islam yang berkaliber besar, pengarangan ilmu, perkembangan
tarikh. Kemudian dalam perkembangan dan kehidupan seni budaya yaitu meliputi
seni bahasa dan puisi.
Tatkala Usmani berhasil
menaklukan Constantinopel dikota inilah dibangun berbagai sarana umat
islam,seperti pembangunan Madrasah (Sekolah), Rumah Sakit, Masjid serta
bangunan-bangunan megah lainnya dengan Arsitektur kenamaan yaitu Sinan dari Anatolia.
3.
Kemunduran
Usmaniyah
Runtuh dan hancurnya
kekuasaan Dinasti Usmaniyah dipengaruhi beberapa Faktor,yaitu Faktor Interen
yang melatar belakangi mundurnya kekuatan dan stabilitas Dinasti Usmaniyah
antara lain karna kecakapan (Capability) serta moralitas (Credibility) para
pemimpinnya. Misalnya pengangkatan Salim II, setelah Sulaiman Wafat pada Tahun
974 H atau 1566 M, kerajaan mulai
menapaki jalanan yang menurun curam, sebuah perjalanan yang panjang dan
berliku. Kegagalan serangan ke dua ke Wina pada 1683 diangap sebagai
tanda-tanda awal berakhirnya kejayaan kerajaan ekspansi Turki ke Eropa tidak
mengalami kemajuan yang berarti.
Bukan didasarkan pada diri Salim yang cakap, melainkan karna perebutan
kekuasaan dalam Istana. Selain itu Salim II juga dikenal Masyarakat sebagai
seorang yang suka mabuk-mabukan, dan main perempuan. Adapun Faktor luar
(Eksteren) yang menyeabkan runtuh dan hancurnya kerajaan Usmaniyah adalah
adanya kontak fisik dengan kekuatan-kekuatan besar lainnya dalam rangka
ekspansi daerah. Sehingga keadaan semakin kacau balau tatkala berdirinya
perserikatan bangsa-bangsa falakh (Rumania) yang bernotabene kerajaan-kerajaan
kecil dibawah kerajaan Umaniyah untuk melawan dan memisahkan diri dari
Usmaniyah. Dalam Dua hal ini menjadikan pelan-pelan tapi pasti runtuhnya
Dinasti Usmani.
Di daratan Arab,
wilayah Afrika Utara merupakan wilayah yang pertama lepas dari kekuasaan
Usmani. Wilayah-wilayah itu membentuk satu blok tersendiri. Aljazair merupakan
negara Arab pertama yang memisahakan dari kerajaan Usmani. Hal ini terjadi pada
1830 ketika pasukan Prancis mendarat di pantai dengan berpura-pura ingin
membalas dendam atas aksi bajak laut, dan membalas penghinaan yang dialkukan
oleh dey Husayn kepada seorang diplomat Prancis. Delapan belas tahun kemudian,
negeri itu dideklarasikan sebagai bagian dari wilayah Prancis berikut daerah
pesisirnya.
C. Kerajaan Safawiyah
1.
Kemunculan
Safawiyah
Asal mula kerajaan
Syafawiyah bisa di katakan berbeda dengan antara lainnya. Hal ini di sebabkan
kerajaan Syafawiyah bermula dari sebuah gerakan kaum sufi atau tasawuf yang di
pimpin oleh Syekh Ishak Safruddin (1252-1334M) yang pada abad ke-15 berubah
menjadi gerakan revolusioner politik. Syekh Ishak Safruddin adalah seorang guru
sufi di Ardabil yaitu sebuah kota di Azerbaijan Persia Barat laut, yang
merupakan keturunan dari Musa al-Khadim. Keberadaan tarekat ini sudah ada
semenjak kerajaan keturunan Timurlank masih berkuasa. Berkat kealiman dan
kezahidannya Ishak Syafruddin banyak di hormati orang, sehingga tidak aneh
ketika dia juga termasuk anggota Majelis Wazir Besar Rosyiduddin, yaitu majelis
yang di bentuk oleh kerajaan Mughol.
Pada perkembangan
selanjutnya para pengikut tarekat ini tidak bisa membendung “syahwat”
politiknya. Hal ini nampak ketika kepemimpinan Safruddin di ganti putranya yang
bernama Junaid mendapatkan tanggapan pro dankontra. Diantara tokoh yang kontra
terhadap sepak terjang Junaid adalah Kara Kuyunlu. Konflik antara keduanya
mengakibatkan Junaid harus menerima poluce dari Kara Kuyunlu untuk mengasingkan
dia di suatu tempat. Di tempat pengasingan itu dia menghimpun kekuatan dengan
cara menyebarkan ajaran tarekatnya dan membentuk kekuatan baru dengan cara
berkoalisidengan Uzun Hasan. Hubungan Junaid dengan Uzun Hasan di harapkan bisa
meraih supremasi politik, dengan cara melakukan perlawanan dengan Ardabil dan
Sircassia, tetapi kenyatannya usaha tersebut justru menyebabkan terbunuhnya
Junaid (1460) dalam pertempuran melawan tentara yang di pimpin oleh Sirwah.
Setalah 10tahun setelah
Junaid meninggal kepemimpinannya digantikan oleh anaknya yang bernama Haidar
pada tahun 1470. Hubungan antara penguasaa Syafawiyah dengan Uzun Hasan semakin
erat setalah Haidar mengawini putrinya Uzun Hasan, dan di karuniani 3 anak
laki-laki.
Nama Haidar semakin berkibar
setelah berhasil mengalahkan kekuatan AK Koyunlu dalam pertempuran yang terjadi
pada tahun 1476 M. Akibat kekalahn AK Koyunlu memberikan bantuan kepada Sirwan
maka terjadilah peperangan antara Sirwan dengan Syafawiyah sehingga Haidar terbunuh.
Setelah meninggalnya Haidar kepemimpinannya diteruskan oleh Ali yang tidak
berlangsung lama, dan di gantikan oleh Ismail, Ismail inilah yang di pandang
sebagai pendiri pertama kerajaan Syafawiyah.
Kebijakan strategis yang
di ambil oleh Ismail di awal kepemimpinannya adalah menjadikan Syiah sebagai
madzhab resmi negara, serta menjadikan bentuk negara Syafawiyah menjadi negara
teokrasi. Pada tahun 1514 di Chaldiran, dekat Tibriz, terjadi kontak senjata
antara pasukan Syafawiyah dengan pasukan Turki Usmani, yang berakibat pada
kekalahan pasukan Syafawiyah. Akibat kekalahan tersebut pengaruh dan wibawa
Ismail mengalami penurunan hingga kematiannya. Setelah kematian Ismail
kepemimpinan Syafawiyah di gantikan oleh putranya yang bernama Tahmaps
(1524-1576M). Pada periode ini lebih banyak melakukan serangan terhadap
musuh-musuhnya, seperti berperang melawan kerajaan Turkin Usmani, dan kerajaan
Uzbek.
2.
Kemajuan
Syafawiyah
Puncak kejayaan
Syafawiyah ketika periode Abbas I. Ia tidak saja berhasil membuat stabilitas
Negara, tetapi juga telah mampu menciptakan iklim yang kondusif untuk
mengembangkan perekonomian, dan mengembangkan keilmuan.Dalam bidang
perekonomian Abbas I membangun banyak industri, terutama produksi permadani dan
sutra. Keberhasilan ini di topang oleh hasil pertanian yang sangat memuaskan
dari penguasa daerah Bulan Sabit Subur (fortile crescent). Kemajuaan dalam
bidang perekonomian ternyata berdampak positif terhadap pengembangan di bidang
ke ilmuan. Seperti filsafat, bidang sejarah, bidang teologi, dan ke ilmuan umum
lainnya. Kemajuan pada bidang kesenian. Hal ini dapat di lacak dari gaya
arsitektur bangunan-bangunan seperti masjid, sekolah rumah sakit, dan istana
chihil sutun.
Pada saat kepemimpinan
Ismail membuat kebijakan seperti menjadikan Syiah sebagai madzhab resmi negara,
serta menjadikan bentuk negara Syafawiyah menjadi Negara teokrasi.
3.
Kemunduran
Safawiyah
Kejayaan Syafawiyah
ternyata tidak bisa bertahan lama, khususnya setelah meninggalnya Abbas I. Hal
tersebut sangat erat kaitannya dengan para penguasa Syafawiyah itu sendiri yang
sangat lemah secara ke ilmuan dan ke imanan. Sehinggah tidak aneh muncul
beberapa gerakan sparatis dan gelombang pemberontakan misalnya dari masyarakat
Afganistan yang akhirnya membuat pemerintahan Syafawiyah harus berakhir. Pada
tahun 1514 di Chaldiran, dekat Tibriz, terjadi kontak senjata antara pasukan
Syafawiyah dengan pasukan Turki Usmani, yang berakibat pada kekalahan pasukan
Syafawiyah. Akibat kekalahan tersebut pengaruh dan wibawa Ismail mengalmi penurunan
hingga kematiannya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kerajaan
Mughol yang beribukota Delhi didirikan oleh Zahirudin Babur (1482-1530).Kemajuan
yang menonjol ketika masa Akbar yang terlihat dalam sistem struktur
pemerintahan dan kemiliteran. Kemajuan yang dicapai oleh Akbar masih di
teruskan oleh generasi penerusnya yaitu Jehangir (1605-1628), Syah Jehan
(1628-1658), dan Aurangzeb (1658-1707). Kemajuannya dalam bidang kebudayaan,
pertambangan, perdagangan, dan keilmuan. Di bidang kebudayaan terlihat dari
perkembangan seni dan arsitektur yang sangat pesat. Dinasti ini membangun
Tajmahal, dan ketika masa raja keenam membangun sebuah masjid Badahsahi di
Lohore.
Kehancuran
Dinasti Mughol yaitu puncak konflik dengan inggris sehingga Bahadur Syah, Raja
terakhir Mughol. Terusirnya Bahadur Syah dari istana kerajaan mengakhiri pula
sejarah panjang dari dinasti Mughol yang berarti juga hilangnya kekuatan umat
islam di India secara umum.
Sementara
munculnya istilah Kerajaan Usmaniyah diambil dari pemimpinnya yang kedua yaitu
Usman. Ketika masih berupa kelompok suku Komuntas ini dipimpin oleh Ayah Usman
yang bernama Erthogol (Arthogol) Bin Sulaiman.
Selain
itu Kebudayaan dari Dinasti Usmani yaitu berpaduan antara budaya Persia,
Bizantium. Dari kebudayaan Persia, lebih mengambil ajaran-ajaran tata krama dan
etika. Sedangkan ajaran-ajaran tentang prinsip ekonomi, perkembangan keilmuan,
dan sosial kemasyarakan mengadpsi dari Budaya Arab.
Kegagalan
serangan ke dua ke Wina pada 1683 diangap sebagai tanda-tanda awal berakhirnya
kejayaan kerajaan ekspansi Turki ke Eropa tidak mengalami kemajuan dan juga
karna berdirinya perserikatan bangsa-bangsa falakh (Rumania) yang bernotabene
kerajaan-kerajaan kecil dibawah kerajaan Umaniyah untuk melawan dan memisahkan
diri dari Usmaniyah selain itu juga karna wilayahnya lepas dibawah Dinasti
Usmani.
Kemudian
Asal mula kerajaan Syafawiyah bisa di katakan berbeda dengan antara lainnya.
Hal ini di sebabkan kerajaan Syafawiyah bermula dari sebuah gerakan kaum sufi
atau tasawuf yang di pimpin oleh Syekh Ishak Safruddin (1252-1334M) yang pada
abad ke-15 berubah menjadi gerakan revolusioner politik.
Dalam
kemajuan mampu menciptakan iklim yang kondusif untuk mengembangkan
perekonomian, dan mengembangkan keilmuan. Kemajuaan dalam bidang perekonomian
ternyata berdampak positif terhadap pengembangan di bidang ke ilmuan. Seperti
filsafat, bidang sejarah, bidang teologi, dan ke ilmuan umum lainnya. Dan
Kemajuan pada bidang kesenian, Hal ini dapat di lacak dari gaya arsitektur bangunan-bangunan
seperti masjid, sekolah rumah sakit, dan istana chihil sutun.
Setelah
meninggalnya Abbas I, muncul beberapa gerakan sparatis dan gelombang
pemberontakan misalnya dari masyarakat Afganistan yang akhirnya membuat
pemerintahan Syafawiyah harus berakhir.
DAFTAR PUSTAKA
Hasyim,A.Sejarah Kebudayaan Islam.Bulan
Bintang.Jakarta.1973
H.Maman
A.Malik-Sy,Gusnam Haris,Rofik,Sejarah
Kebudayaan Islam,Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.2005
PhillipK.Hitti,History of the Arabs.Pt Serambi Ilmu
Semesta.2013