Rabu, 04 Desember 2013

DAFTAR ISI

1.      DAFTAR ISI.............................................................................................. 1
2.      BAB I Pendahuluan .................................................................................. 2
A.    Latar Belakang ...................................................................................... 2
3.      BAB II Pembahasan ................................................................................. 3
A.    Kerajaan Mughol................................................................................. 3
1.    Kemunculan Mughol.......................................................................... 3
2.    Kemajuan Mughol.............................................................................. 3
3.    Kemunduran Mughol.......................................................................... 5
B.     KerajaanUsmaniah.............................................................................. 6
1.    Kemunculan Usmaniyah..................................................................... 6
2.    Kemajuan Usmaniyah......................................................................... 7
3.    Kemnduran Usmaniyah...................................................................... 9
C.    Kerajaan Safawiyah ......................................................................... 10
1.      Kemunculan Safawiyah.................................................................... 10
2.      Kemajuan Safawiyah........................................................................ 11
3.      Kemunduran Safawiyah................................................................... 12
4.      BAB III PENUTUP                                                                                  13
a.       Kesimpulan                                                                                          13
5.      DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 15



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sejak jatuhnya Baghdad pada tahun 1258 M. ke tangan Bangsa Mongol Tidak hanya mengakhiri pemerintahan Bani Abbasiyah tetapi juga merupakan awal masa kemunduran politik dan peradaban Islam. Kekuasaan Islam mengalami kemunduran sehingga Wilayah kekuasaannya terpecah belah  menjadi beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain saling memerangi. Sehingga dari beberapa waktu, terbentuklah tiga kerajaan besar yaitu : Kerajaan Turki Usmani, Kerajaan Safawi di Persia dan Kerajaan Mughal di India.
Kerajaan Usmani  yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding kedua kerajaan lainnya. Turki Usmani dianggap sebagai dinasti yang mampu menghimpun kembali umat Islam setelah beberapa lama mengalami kemunduran politik. Munculnya kerajaan Turki Usmani, kembali menjadikan umat Islam sebagai kekuatan, ia berhasil menaklukkan kota Konstantinofel, yang sejak masa dinasti Umayyah telah dicoba untuk ditaklukkan, namun selalu gagal.
Selain Kerajaan Usmani, di Persia muncul juga satu dinasti baru yang kemudian menjadi kerajaan besar di dunia Islam, yaitu dinasti Safawi. Kerajaan ini mampu mempersatukan seluruh daerah Persia sebagai satu negara yang besar dan independen.
Selain itu berdiri kerajaan Mughal di India dengan Delhi sebagai ibu kotanya. kerajaan Mughal bukanlah kerajan Islam pertama di anak Benua India. Awal kekuasaan Islam di wilayah India terjadi pada masa khalifah al-Walid dari Dinasti Bani Umayyah. Akan tetapi Kerajaan Mughal termasuk salah satu kerajaan yang cukup berarti dalam mengkonstruksi peradaban dunia Islam.
Dari ketiga kerajaan itu mempunyai peradaban atau kemajuan dan sejarah yang berbeda-beda. Oleh karna itu penulis akan mencoba menguraikan tentang sejarah ketiga kerajaan tersebut dan perkembangan atau kemajuan yang dicapai pada masanya masing-masing serta kemundurannya.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kerajaan Mughol
1.      Kemunculan Mughol
Awal mula bangsa Mughol adalah masyarakat yang nomaden. Karena masyarakat Mughol adalah masyarakat yang berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lain. Ketika Islam sedang mengalami kejayaan,bangsa Mughol sangat di kenal sebagai bangsa perusak kebudayaan Islam. Akan tetapi keadaan tersebut berubah setelah kerajaan Ummayah menaklukkan India. Kerajaan Mughol yang beribukota Delhi didirikan oleh Zahirudin Babur (1482-1530). Babur memegang pucuk kepemimpinan sejak berusia 12 tahun. Meskipun masih muda dia mempunyai ambisi besar di antaranya menaklukkan kota Samarkhand di lakukan dua kali, usaha yang pertama gagal. Kemudian pada penaklukan yang kedua mendapat bantuan dari Raja Syafawiyah, Ismail I. Sehingga pada pada tahun 1494 kota tersebut dapat di taklukkan. India dapat di kuasai sepenuhnya oleh Babur pada tahun 1526 M setelah mengalahkan Ibrahim Lodi yang sebelumnya menjadi penguasa yang bermarkas di Delhi.
Paska kemenangan itulah secara resmi berdirilah kerajaan Mughol di India. Setelah Babur meninggal tahta kerajaan Mughol di India di teruskan oleh putra mahkota yaiutu Humayun. Pada awal pemerintahannya Humayun harus menghadapi gerakan sparatis yang dilakikan oleh Bahdur Syah. Selain itu dia juga di hadapkan pada persoalan pemberontakan yang di lancarkan oleh Sher khan yang mengakibatkan Humayun harus melarikan diri dan mengasingkan diri ke Persia. Pada tahun 1555M Humayun mampu merebut kembali kekuasaan Mughol di Delhi dengan mengalahkan kekuatan Khan syah.[1]  

2.      Kemajuan Mughol
Sepeninggalnya Humayun tahta kerajaan di pegang oleh anaknya yang bernama Akbar. Banyak kebijakan yang dilahirkan oleh Akbar diantaranya politik salakhul (toleransi universal), yaitu kebijakan politik yang menganggap semua warga India memiliki posisi yang sama. Kemajuan yang menonjol masa Akbar terlihat dalam sistem struktur pemerintahan dan kemiliteran. Kemajuan yang di capai oleh Akbar masih di teruskan oleh generasi penerusnya yaitu Jehangir (1605-1628), Syah Jehan (1628-1658), dan Aurangzeb (1658-1707). Dinasti Mughol pada saat di pimpin oleh keempat Sultan tersebut banyak mengalami kemajuan, baik di bidang kebudayaan, pertambangan, perdagangan, dan keilmuan. Di bidang kebudayaan terlihat dari perkembangan seni dan arsitektur yang sangat pesat. Hal tersebut dapat dilihat dari disain masjid, perpustakaan, dan sekolahan-sekolahan. Simbol masa keemasan dan kejayaan dari dinasti Mughol ini terlihat ketika pada tahun 1632M, Dinasti ini membangun Tajmahal, dan ketika masa raja keenam membangun sebuah masjid Badahsahi di Lohore[2].
mengenai perkembangan ilmu dalam zaman Mughol ini yaitu Hadis, Qur’an dan ilmu-ilmunya, Tasawuf, Ath thib, Falsafah, Ilmu pasti/ilmu bintang, Ilmu Thabi’iyat/teknik, Ilmu peperangan/berburu, Ilmu politik/tata usaha. Kemudian dalam perkembangan ilmu bahasa meliputi Ulama pengarang bahasa, Ilmu tarikh, Kritik tarikh, Falsafah tarikh, Ahli/pengarang tarikh, Jughrafi/rihlah, Mausuat/majmi.
Masa Mughol dalam sejarah kebudayaan Islam mempunyai ciri-ciri Khas sendiri, diantaranya yaitu :
a.       Berpindahnya Pusat Ilmu
Kegiatan Ilmu pada masa Abbasiyah berpusat dikota-kota Bagdad,Bukhara,Naisabur, Ray, Kordova, Sivilia, dan lain-lainnya. Dalam masa Mughol berpindah kekota-kota Kairo,Iskandaria,Usyuth, Faiyum, damaskus, Himas, Halab, Huma, dan lain-lain Kota Mesir dan Syam.
b.      Pendukung Sastras
Para Khaliifah, para Menteri, para Amir dan para Pembesar lainnya tidak lagi menjadi Penggemar Ilmu. Mereka hanya mabuk kekuasaan.
c.       Ilmu-ilmu Baru
Dalam masa ini, mulai matang Ilmu Umran (Sociology) dan Falsafah Tarikh (Philosophy of History) dengan munculnya Muqoddimah Ibnu Khaldun, sebagai Kitab pertama dalam bidang ini. Juga dalam masa ini, disempurnakan penyusunan Ilmu Politik, Ilmu Tata Usaha, Ilmu Peperangan, Ilmu Kritik Sejarah. Disamping lahirnya Ilmu-ilmu baru, juga dalam masa Mughol ini, membanjir berbagai gelar kebesaran dimuka nama para pembesar dan Ulama, sementara ibarat karangan menjadi sulit dan Uslu bersajak yang hampa semakin banyak.
D. Kurangnya Kutubkhanah
Dalam zaman ini, banyak kutubkhanah-kutubkhanah yang besar menjadi musnah bersama segala akibatnya, karena terbakar atau tenggelam di tengah-tengah suasana yang kacau atau waktupenaklukan Mughol di timur dan penyerangan Sepanyol di barat.
E. Memperbanyak sekolah dan Mausu’at
            Dalam zaman ini, sekolah-sekolah yang teratur tumbuh dengan suburnya,terutama di Mesir dan Syam, dan yang menjadi pusatnya, yaitu Kairo dan Damaskus. Kecuali banyaknya sekolah-sekolah, pada zaman Mughol ini istimewa dengan lahirnya “mausu’at” dan majmu’at (buku kumpulan berbagai ilmu dan masalah, kira-kira seperti encyclopedia), sehingga masa ini boleh di sebut “Zaman Mausu’at”.
F.      Penyelewengan ilmu
Dalam zaman ini, para terpelajar banyak yang melarikan diri dari dunia falsafah, falak dan riyadliyat ke dunia pembahasan agama. dalam masa Mughol ini, berbagai ilmu mereka pergunakan adakala untuk menghidmati agama atau untuk mengabdi kepada khurafat[3].

3.      Kemunduran Mughol
            Setelah meninggalnya Aurangzeb pada tahun 1707 M, Dinasti Mughol mulai dilanda konflik, baik internal maupun konflik eksternal. Konflik internal terjadi karena adanya suksesi kepemimpinan dimana terjadi perebutan kekuasaan antara keturunan Bahadur Syah dengan Muhammad Fahrukhsiyar.konflik tersebut mengakibatkan perang saudara antara kedua keluarga besar tersebut. Konflik yang berkepanjangan yang terjadi pada dinasti Mughol telah mengakibatkan lemahnya roda pemerintahan pusat sehingga banyak daerah yang ingin melepaskan diri dari pemerintah pusat.selain masalah intern dinasti, Mughol juga dihadapkan pada beberapa pemberontakan yang daatang dari orang Hindu dibawah pimpinan Banda yang kemudian berhasil merebut kota Sadhaura sebelah utara Delhi. Di luar itu di Eropa terdapat negara yang semakin kuat posisi dan penagruhnya, yaitu Inggris mulai melancarkan serangannya sejak pada masa Bahadur Syah.
            Puncak konflik antara Mughol dengan Inggris terjadi pada tahun 1885 M dimana Mughol sudah tidak lagi mempnyai kekuatan. Rakyat India banyak yang dibunuh, Bahadur Syah, Raja terakhir Mughol, harus rela diusir dari istananya. Terusirnya Bahadur Syah dari istana kerajaan mengakhiri pula sejarah panjang dari dinasti Mughol yang berarti juga hilangnya kekuatan umat islam di India secara umum.

B.     Kerajaan Usmaniyah
1.      Kemunculan Usmaniyah
Munculnya istilah Kerajaan Usmaniyah diambil dari pemimpinnya yang kedua yaitu Usman. Ketika masih berupa kelompok suku Komuntas ini dipimpin oleh Ayah Usman yang bernama Erthogol (Arthogol) Bin Sulaiman. Erthogrol meninngal pada tahun 687H atau 1289 M, ketika wilayah kekuasaannnya berada dibawah kekuasaan Alauddin. Penunjukan Usman untuk melanjutkan kepemimpnan Ayahnya itu dilakukan oleh Alauddin[4].
Kedekatan dan kerjasama yang telah dibangun oleh erthogrol terus di lanjutkan oleh Usman, di antaranya dia berjasa telah menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa. Dengan kesetiaan di tunjukkan oleh Usman kepada Alauddin, maka Sultan Alauddin memberi gelar “Bey”, memberikan hadiah berupa perluasan daerah kekuasaannya, dan diizinkan memakai mata uang sendiri. Sebagaimana bahwa meninggalnya Alauddin mengakibatkan pecahnya wilayah kekuasaan Dinasti Seljuk, saat itu pula Usman menyatakan kemerdekaan dan berkuasa serta berdaulat penuh atas wilayah yang dia tempati. Maka sejak saat itulah wilayah Daulah Usmaniyah eksis dan berdaulat dengan Raja pertama Usman bin Erthogrol atau lebih dikenal dendan Usman 1. Pada waktu Munguliyah sedang menuju kehancurannya maka bangkitlah Daulah Usmaniyah di Asia kecil yang kemudian dengan segera menyebrang laut menuju Eropa dan dalam tahun 857 H Kota Istambul dapat direbutnya[5].

2.      Kemajuan Usmaniyah
Akibat Kegigihan dan ketangguhan yang dmiliki oleh para pemimpin dalam mempertahankan Turki Usmani membawa dampak yang baik sehingga kemajuan-kemajuan dalam perkembangan wilayah Turki Usmani dapat diraihnya dengan cepat. Daulah usmaniyah memperluas daerah kekuasaannya ke semenanjung Balkan, dan berkibarlah bendera islam di angkasa Timur Eropa, dari semenanjung balkan Daulah Usmaniyah melebarkan sayapnya ke jurusan timur, dalam waktu yang sangat singkat seluruh Persia dan Irak yang di kuasai oleh Daulah Shafawiyah yang beraliran syi’ah diganti dengan aliran sunny.
Kemudian dari Persia dan Irak Daulah Usmaniyah menuju ke Syam dan Mesir, sehingga pada tahun 923H Daulah Usmaniyah dapat menguasai kedua wilayah tersebut, sebagai permulaan dari Dinasti usmany memegang kendali dunia islam dengan pusat pemerintahan di Ibukota Negara Istanbul. Adapun wilayah yang sepenuhnya di kuasai oleh Daulah Usmaniyah yang terdiri dari Unsur Turki, yaitu Asia Kecil,Semenanjung Balkan,Pulau-pulau di lautan tengah,Mesir,Syam,Tunisia,Aljazair,Lybia,dan beberapa daerah lain. Daulah Usmaniyah membiarkan para Sulthan dari Dinasti Mamalek tetap menjadi penguasa dari wilayah Mesir dan Syam, karena mereka unsur Turky dan menganut Aliran Sunny[6].
Dalam Perkembangan Daulah Usmaniyah Secara garis besar kepemimpinan kerajaan Usmaniyyah dapat di kelompokan menjadi  lima periode. Adapun kelima periode itu adalah sebagai berikut[7]:
a.       Periode pertama, yaitu masa pendirian dan pembentukan kekuasaan setelah melepaskan diri dari Dinasti Saljuk. Masa ini berlangsung dari tahun1299 hingga tahun 1430-an M. Dengan demikian pemimpin kerajaan yang termasuk pada periode ini adalah Usman I, Orkhan Murad I, Bayazid I, dan Muhammad I.
b.      Periode kedua, yaitu masa pembenahan, pertumbuhan, dan ekspansi besar-besara. Di masa inilah puncak kejayaan dan kemenangan bagi kerajaan Usmaniyah dengan di tandai takluknya kota Konstantinopel yang kemudian di jadikan Ibukota dengan di rubah namanya menjadi Istanbul.
c.       Periode ketiga, merupakan periode dimana ekstitensi kerajaan sudah mulai terkoyak akibat serangan dari luar sehingga pada periode ini banyak wilayah yang lepas dari kekuasaan kerajaan Usmaniyah, misalnya Hongaria.
d.      Periode keempat, yaitu masa dimana banyaknya gerakan sparatis yang mengakibatkan hilangnya secara perlahan-lahan kekuasaan kerajaan Usmaniyah.
e.       Periode kelima atau periode terakhir, dari kerajaan Usmaniyah berlangsung sekitar tahun 1839-1922M. Pada periode ini pengaruh barat sudah mulai nampak, hal ini bisa di buktikan dengan adanya kebudayaan dan gaya administrasi ala barta.
Sebagaimana tergambar diatas bahwa kerajaan Usmaniyah awal mulanya merupakan sebuah suku yang nomaden,dengan demikian dapat dikatakan bahwa kebudayaan Usmaniyah tidak dipengaruhi dan didominasi oleh satu kebudayaan saja, melainkan hasil berpaduan antara budaya Persia, Bizantium. Dari kebudayaan Persia, lebih mengambil ajaran-ajaran tata krama dan etika. Sedangkan ajaran-ajaran tentang prinsip ekonomi, perkembangan keilmuan, dan sosial kemasyarakan mengadpsi dari Budaya Arab. Dalam bidang keagamaan kerajaan Usmaniyah berpegang teguh pada Syari’at Islam, sehingga tidak aneh ketika Fatwa Ulama menjadi suatu hal yang Urgen dalam menjaab problematika keagamaan Umat[8]. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan di masa Usmani yaitu mempunyai gerakan wahabi yaitu yang di pimpin Muhammad bin Abdulwahab yang setelah dewasa Muhammad kemudian menjadi seorang pemimpin islam yang berkaliber besar, pengarangan ilmu, perkembangan tarikh. Kemudian dalam perkembangan dan kehidupan seni budaya yaitu meliputi seni bahasa dan puisi[9].
Tatkala Usmani berhasil menaklukan Constantinopel dikota inilah dibangun berbagai sarana umat islam,seperti pembangunan Madrasah (Sekolah), Rumah Sakit, Masjid serta bangunan-bangunan megah lainnya dengan Arsitektur kenamaan yaitu Sinan dari Anatolia[10].
3.      Kemunduran Usmaniyah
Runtuh dan hancurnya kekuasaan Dinasti Usmaniyah dipengaruhi beberapa Faktor,yaitu Faktor Interen yang melatar belakangi mundurnya kekuatan dan stabilitas Dinasti Usmaniyah antara lain karna kecakapan (Capability) serta moralitas (Credibility) para pemimpinnya. Misalnya pengangkatan Salim II, setelah Sulaiman Wafat pada Tahun 974 H  atau 1566 M, kerajaan mulai menapaki jalanan yang menurun curam, sebuah perjalanan yang panjang dan berliku. Kegagalan serangan ke dua ke Wina pada 1683 diangap sebagai tanda-tanda awal berakhirnya kejayaan kerajaan ekspansi Turki ke Eropa tidak mengalami kemajuan yang berarti[11]. Bukan didasarkan pada diri Salim yang cakap, melainkan karna perebutan kekuasaan dalam Istana. Selain itu Salim II juga dikenal Masyarakat sebagai seorang yang suka mabuk-mabukan, dan main perempuan. Adapun Faktor luar (Eksteren) yang menyeabkan runtuh dan hancurnya kerajaan Usmaniyah adalah adanya kontak fisik dengan kekuatan-kekuatan besar lainnya dalam rangka ekspansi daerah. Sehingga keadaan semakin kacau balau tatkala berdirinya perserikatan bangsa-bangsa falakh (Rumania) yang bernotabene kerajaan-kerajaan kecil dibawah kerajaan Umaniyah untuk melawan dan memisahkan diri dari Usmaniyah. Dalam Dua hal ini menjadikan pelan-pelan tapi pasti runtuhnya Dinasti Usmani.
Di daratan Arab, wilayah Afrika Utara merupakan wilayah yang pertama lepas dari kekuasaan Usmani. Wilayah-wilayah itu membentuk satu blok tersendiri. Aljazair merupakan negara Arab pertama yang memisahakan dari kerajaan Usmani. Hal ini terjadi pada 1830 ketika pasukan Prancis mendarat di pantai dengan berpura-pura ingin membalas dendam atas aksi bajak laut, dan membalas penghinaan yang dialkukan oleh dey Husayn kepada seorang diplomat Prancis. Delapan belas tahun kemudian, negeri itu dideklarasikan sebagai bagian dari wilayah Prancis berikut daerah pesisirnya.  
C.    Kerajaan Safawiyah
1.    Kemunculan Safawiyah
Asal mula kerajaan Syafawiyah bisa di katakan berbeda dengan antara lainnya. Hal ini di sebabkan kerajaan Syafawiyah bermula dari sebuah gerakan kaum sufi atau tasawuf yang di pimpin oleh Syekh Ishak Safruddin (1252-1334M) yang pada abad ke-15 berubah menjadi gerakan revolusioner politik. Syekh Ishak Safruddin adalah seorang guru sufi di Ardabil yaitu sebuah kota di Azerbaijan Persia Barat laut, yang merupakan keturunan dari Musa al-Khadim. Keberadaan tarekat ini sudah ada semenjak kerajaan keturunan Timurlank masih berkuasa. Berkat kealiman dan kezahidannya Ishak Syafruddin banyak di hormati orang, sehingga tidak aneh ketika dia juga termasuk anggota Majelis Wazir Besar Rosyiduddin, yaitu majelis yang di bentuk oleh kerajaan Mughol.
Pada perkembangan selanjutnya para pengikut tarekat ini tidak bisa membendung “syahwat” politiknya. Hal ini nampak ketika kepemimpinan Safruddin di ganti putranya yang bernama Junaid mendapatkan tanggapan pro dankontra. Diantara tokoh yang kontra terhadap sepak terjang Junaid adalah Kara Kuyunlu. Konflik antara keduanya mengakibatkan Junaid harus menerima poluce dari Kara Kuyunlu untuk mengasingkan dia di suatu tempat. Di tempat pengasingan itu dia menghimpun kekuatan dengan cara menyebarkan ajaran tarekatnya dan membentuk kekuatan baru dengan cara berkoalisidengan Uzun Hasan. Hubungan Junaid dengan Uzun Hasan di harapkan bisa meraih supremasi politik, dengan cara melakukan perlawanan dengan Ardabil dan Sircassia, tetapi kenyatannya usaha tersebut justru menyebabkan terbunuhnya Junaid (1460) dalam pertempuran melawan tentara yang di pimpin oleh Sirwah.
Setalah 10tahun setelah Junaid meninggal kepemimpinannya digantikan oleh anaknya yang bernama Haidar pada tahun 1470. Hubungan antara penguasaa Syafawiyah dengan Uzun Hasan semakin erat setalah Haidar mengawini putrinya Uzun Hasan, dan di karuniani 3 anak laki-laki[12].
Nama Haidar semakin berkibar setelah berhasil mengalahkan kekuatan AK Koyunlu dalam pertempuran yang terjadi pada tahun 1476 M. Akibat kekalahn AK Koyunlu memberikan bantuan kepada Sirwan maka terjadilah peperangan antara Sirwan dengan Syafawiyah sehingga Haidar terbunuh. Setelah meninggalnya Haidar kepemimpinannya diteruskan oleh Ali yang tidak berlangsung lama, dan di gantikan oleh Ismail, Ismail inilah yang di pandang sebagai pendiri pertama kerajaan Syafawiyah.
Kebijakan strategis yang di ambil oleh Ismail di awal kepemimpinannya adalah menjadikan Syiah sebagai madzhab resmi negara, serta menjadikan bentuk negara Syafawiyah menjadi negara teokrasi. Pada tahun 1514 di Chaldiran, dekat Tibriz, terjadi kontak senjata antara pasukan Syafawiyah dengan pasukan Turki Usmani, yang berakibat pada kekalahan pasukan Syafawiyah. Akibat kekalahan tersebut pengaruh dan wibawa Ismail mengalami penurunan hingga kematiannya. Setelah kematian Ismail kepemimpinan Syafawiyah di gantikan oleh putranya yang bernama Tahmaps (1524-1576M). Pada periode ini lebih banyak melakukan serangan terhadap musuh-musuhnya, seperti berperang melawan kerajaan Turkin Usmani, dan kerajaan Uzbek[13].

2.    Kemajuan Syafawiyah
Puncak kejayaan Syafawiyah ketika periode Abbas I. Ia tidak saja berhasil membuat stabilitas Negara, tetapi juga telah mampu menciptakan iklim yang kondusif untuk mengembangkan perekonomian, dan mengembangkan keilmuan.Dalam bidang perekonomian Abbas I membangun banyak industri, terutama produksi permadani dan sutra. Keberhasilan ini di topang oleh hasil pertanian yang sangat memuaskan dari penguasa daerah Bulan Sabit Subur (fortile crescent). Kemajuaan dalam bidang perekonomian ternyata berdampak positif terhadap pengembangan di bidang ke ilmuan. Seperti filsafat, bidang sejarah, bidang teologi, dan ke ilmuan umum lainnya. Kemajuan pada bidang kesenian. Hal ini dapat di lacak dari gaya arsitektur bangunan-bangunan seperti masjid, sekolah rumah sakit, dan istana chihil sutun.[14]
Pada saat kepemimpinan Ismail membuat kebijakan seperti menjadikan Syiah sebagai madzhab resmi negara, serta menjadikan bentuk negara Syafawiyah menjadi Negara teokrasi.[15]
3.      Kemunduran Safawiyah
Kejayaan Syafawiyah ternyata tidak bisa bertahan lama, khususnya setelah meninggalnya Abbas I. Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan para penguasa Syafawiyah itu sendiri yang sangat lemah secara ke ilmuan dan ke imanan. Sehinggah tidak aneh muncul beberapa gerakan sparatis dan gelombang pemberontakan misalnya dari masyarakat Afganistan yang akhirnya membuat pemerintahan Syafawiyah harus berakhir. Pada tahun 1514 di Chaldiran, dekat Tibriz, terjadi kontak senjata antara pasukan Syafawiyah dengan pasukan Turki Usmani, yang berakibat pada kekalahan pasukan Syafawiyah. Akibat kekalahan tersebut pengaruh dan wibawa Ismail mengalmi penurunan hingga kematiannya.


















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kerajaan Mughol yang beribukota Delhi didirikan oleh Zahirudin Babur (1482-1530).Kemajuan yang menonjol ketika masa Akbar yang terlihat dalam sistem struktur pemerintahan dan kemiliteran. Kemajuan yang dicapai oleh Akbar masih di teruskan oleh generasi penerusnya yaitu Jehangir (1605-1628), Syah Jehan (1628-1658), dan Aurangzeb (1658-1707). Kemajuannya dalam bidang kebudayaan, pertambangan, perdagangan, dan keilmuan. Di bidang kebudayaan terlihat dari perkembangan seni dan arsitektur yang sangat pesat. Dinasti ini membangun Tajmahal, dan ketika masa raja keenam membangun sebuah masjid Badahsahi di Lohore.
Kehancuran Dinasti Mughol yaitu puncak konflik dengan inggris sehingga Bahadur Syah, Raja terakhir Mughol. Terusirnya Bahadur Syah dari istana kerajaan mengakhiri pula sejarah panjang dari dinasti Mughol yang berarti juga hilangnya kekuatan umat islam di India secara umum.
Sementara munculnya istilah Kerajaan Usmaniyah diambil dari pemimpinnya yang kedua yaitu Usman. Ketika masih berupa kelompok suku Komuntas ini dipimpin oleh Ayah Usman yang bernama Erthogol (Arthogol) Bin Sulaiman.
Selain itu Kebudayaan dari Dinasti Usmani yaitu berpaduan antara budaya Persia, Bizantium. Dari kebudayaan Persia, lebih mengambil ajaran-ajaran tata krama dan etika. Sedangkan ajaran-ajaran tentang prinsip ekonomi, perkembangan keilmuan, dan sosial kemasyarakan mengadpsi dari Budaya Arab.
Kegagalan serangan ke dua ke Wina pada 1683 diangap sebagai tanda-tanda awal berakhirnya kejayaan kerajaan ekspansi Turki ke Eropa tidak mengalami kemajuan dan juga karna berdirinya perserikatan bangsa-bangsa falakh (Rumania) yang bernotabene kerajaan-kerajaan kecil dibawah kerajaan Umaniyah untuk melawan dan memisahkan diri dari Usmaniyah selain itu juga karna wilayahnya lepas dibawah Dinasti Usmani.
Kemudian Asal mula kerajaan Syafawiyah bisa di katakan berbeda dengan antara lainnya. Hal ini di sebabkan kerajaan Syafawiyah bermula dari sebuah gerakan kaum sufi atau tasawuf yang di pimpin oleh Syekh Ishak Safruddin (1252-1334M) yang pada abad ke-15 berubah menjadi gerakan revolusioner politik.
Dalam kemajuan mampu menciptakan iklim yang kondusif untuk mengembangkan perekonomian, dan mengembangkan keilmuan. Kemajuaan dalam bidang perekonomian ternyata berdampak positif terhadap pengembangan di bidang ke ilmuan. Seperti filsafat, bidang sejarah, bidang teologi, dan ke ilmuan umum lainnya. Dan Kemajuan pada bidang kesenian, Hal ini dapat di lacak dari gaya arsitektur bangunan-bangunan seperti masjid, sekolah rumah sakit, dan istana chihil sutun.
Setelah meninggalnya Abbas I, muncul beberapa gerakan sparatis dan gelombang pemberontakan misalnya dari masyarakat Afganistan yang akhirnya membuat pemerintahan Syafawiyah harus berakhir.
























DAFTAR PUSTAKA

Hasyim,A.Sejarah Kebudayaan Islam.Bulan Bintang.Jakarta.1973
H.Maman A.Malik-Sy,Gusnam Haris,Rofik,Sejarah Kebudayaan Islam,Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.2005
PhillipK.Hitti,History of the Arabs.Pt Serambi Ilmu Semesta.2013



[1] H.maman A.malik-sy, Gusnam haris, Rofik .Sejarah kebudayaan islam.Hal 165
[2] H.maman A.malik-sy, Gusnam haris, Rofik.Sejarah kebudayaan islam. Hal 168
[3] A.Hasymy. Sejarah Kebdayaan Islam.Bulan Bintang.Hal 304
[4]H.maman A.malik-sy, Gusnam haris, Rofik. Sejarah kebudayaan islam. Hal 149
[5] A.Hasymy. Sejarah Kebdayaan Islam.Bulan Bintang.Hal 307
[6] A.Hasymy. Sejarah Kebdayaan Islam.Bulan Bintang.Hal 308
[7] H.maman A.malik-sy, Gusnam haris, Rofik. Sejarah kebudayaan islam.Hal 152
[8] H.maman A.malik-sy, Gusnam haris, Rofik. Sejarah kebudayaan islam.Hal 155
[9] A.Hasymy. Sejarah Kebdayaan Islam.Bulan Bintang.Hal 355
[10] H.maman A.malik-sy, Gusnam haris, Rofik.Sejarah kebudayaan islam. Hal 157
[11] Philip K.Hitti.History of the Arabs. Hal 915
[12]H.maman A.malik-sy, Gusnam haris, Rofik. Sejarah kebudayaan islam. Hal 158
[13] H.maman A.malik-sy, Gusnam haris, Rofik. Sejarah kebudayaan islam.Hal 160
[14] H.maman A.malik-sy, Gusnam haris, Rofik. Sejarah kebudayaan islam. Hal 163
[15] H.maman A.malik-sy, Gusnam haris, Rofik. Sejarah kebudayaan islam.Hal 159

Tidak ada komentar:

Posting Komentar